Kamis, 13 Oktober 2011

Estetika Islam dan Timur Tengah

| |

ESTETIKA ISLAM
Islam, seni dan estetika sangat erat hubungannya. Sifat dinamik ajaran islam memperbolehkan umatnya menghayati keindahan dalam pelbagai bidang tidak hanya seni saja. Seperti yang kita bahas pada bab sebelumnya, Islam meletakkan pengaruhnya pada setiap cabang seni, bahkan ikut menentukan arah perkembangan seni dunia. Seni islam yang banyak mengandung unsur sakral meletakkan nilai estetika islam sebagai estetika suci yang dekat hubungannya dengan sifat-sifat Allah.
Seni dalam islam lebih menonjolkan nilai suci (sakral) yang bisa dilihat nilai estetiknya. Nilai estetik islam sendiri lebih menonjolkan satu-kesatuan bentuk yang berulang-ulang sehingga tercipta sesuatu yang harmonis dan seimbang. Keteraturan itu menggambarkan seni sebagai pengantar jiwa manusia ke tuhan, ke Allah.

Dalam hadist Rasulullah menyebutkan Allah itu Indah dan menyukai keindahan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa estetika juga ada dan berpengaruh penting dalam islam dan seni.
Beberapa hal yang menyangkut tentang gambaran dunia yang disajikan Al Quran dan pengaruhnya terhadap estetika, khususnya karya sastra, musik dan seni rupa salah satunya menjelaskan bahwa dalam Al Quran dinyatakan alam semesta, juga pribadi manusia, di mana ayat-ayat-Nya terbentang, diumpamakan sebagai kitab agung atau sebuah karya sestra yang ditulis oleh Sang Pencipta dengan kalam-Nya di atas lembaran terpelihara. 
Berdasarkan pandangan tersebut, para sufi memberikan pendapatnya mengenai fungsi seni yaitu,
1.      Seni adalah pembawa nikmat mencapai keadaan jiwa yang damai dan menyatu dengan keabadian yang abadi.
2.      Seni sebagai pembebasan jiwa dari alam benda melalui sesuatu yang berasal dari alam benda itu sendiri.
3.      Seni sebagai penyucian diri dari pemberhalaan terhadap bentuk-bentuk itu sendiri.
4.      Seni untuk menyampaikan hikmah, yaitu kearifan yang membantu kita bersifat adil dan benar terhadap Tuhan.
5.      Seni sebagai sarana efektif untuk menyebarkan gagasan pengetahuan, informasi yang berguna bagi kehidupan seperti pengetahuan dan informasi yang berkenaan dengan sejarah, geografi, hukum, undang-undang, adab, pemerintahan, politik, ekonomi, dan gagasan keagamaan.
6.      Seni merupakan cara untuk menyampaikan puji-pujian kepada yang Maha Esa.



Estetika Menurut Pandangan Sayyid Hussein Nasser
Hussein Nasser mengistilahkan kemampuan berbahasa atas serapan pengalaman mistik itu sebagai scientia sacra (tradisi seni suci) yang memandang realitas tertinggi itu sebagai kemutlakan, ketakterbatasan dan kesempurnaan atau kebakaan. Keindahan yang dihubungkan dengan semua hipotesis tentang riil merupakan refleksi kemutlakan dalam keteraturan dan tatanan ketakterhinggan dalam pengertian batin dan misteri, yang menuntut kesempurnaan. Dengan kata lain, keindahan menurut Sayyid Hussein Nasser adalah suatu bentuk keteratuaran yang tak terbatas untuk mencapai kesempurnaan Ilahi.
Filosofi Estetika Al Ghazali
Abu Hamid Muhammad Alghazali Altusi adalah seorang tokoh ulama yang luas ilmu pengetahuannya dan merupakan seorang pemikir besar dalam sejarah falsafah islam dan dunia. Kitab Ihya Ulumuddin merupakan karyanya yang terkenal yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.
Keindahan merupakan landasan dari seni. Berdasarkan pernyataan itu, Al Ghazali membagi keindahan menjadi beberapa tingkat yaitu, keindahan inerawi dan natsani (sensual) yang disebut juga keindahan lahir, keindahan imajinatif dan emotif, keindahan aqliyah atau rasional, keindahan ruhaniah atau irfani, dan yang terakhir yaitu keindahan ilahiyah atau transendental. Dua keindahan terakhir dari Al Ghazali tersebut itulah yang biasanya dieksplorasi oleh para sufi dalam setiap karyanya.
Secara teori, imajinasi puitis sebenarnya merupakan sarana prinsip para penyair mistikus untuk membawa pembaca ke suatu pengertian tentang wahyu kenabian. Sedangkan keindahan ruhania dan irfani (mistikal) dapat dilihat dalam pribadi nabi. Nabi merupakan pribadi yang indah bukan semata-mata disebabkan kesempurnaan jasmani dan pengetahuannya tentang agama dan duia, melainkan karena akhlaknya yang mulia dan tingkat makrifatnya yang tinggi.
Estetika Islam dari Sudut Pandang Sayyid Qutub
Sayyid Qutub Ibrahim Hussein Syazili, lahir pada 9 Oktober 1906, di Mosyah, dalam wilayah Asyut. Beliau merupakan pemikir, pujangga, penulis, sasterawan, juga ulama ulung di Mesir pada kurun ke-20. Sebagai penulis, Sayyid dikatakan paling banyak dicetak bukunya. Karyanya masih terus diterbitkan hingga kini malah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Terutama tafsirnya “Fi Zilalil Quran” (Di Bawah Lindungan al-Quran) yang dianggap ‘karya agung’ oleh kebanyakan ulama. Sebagaimana petikan mukadimah tafsir tersebut yang berbunyi: Kehidupan di bawah lindungan al-Quran itu nikmat. Nikmat yang tidak akan dinikmati selain orang yang merasakannya.
Sebagai muslim yang total mempersembahkan hidupnya hanya untuk islam, Sayyid Qutub memiliki keyakinan yang kuat tentang kebenaran tauhid. Keyakinannya itu tetap bertahan meskipun ia mendekam dalam penjara atas fitnah kudeta yang tidak pernah ia lakukan. Meskipun akhir hidupnya dinikmati di penjara, Sayyid Qutub tidak berhenti menulis karya terutama karya sastra. tulisan sastranya yang indah mengisyaratkan keadaan ruhani dan pikirannya. Baginya keindahan itu berasal dari sifat ruhani manusia dalam memahami arti hidup dan islam terutama.

ASAL USUL SENI ISLAM
Pada mulanya seni lukis dalam Islam muncul di wilayah-wilayah yang sebelum datangnya Islam telah memiliki tradisi seni lukis yang telah maju. Khususnya Persia, Iraq dan Asia Tengah. Di kawasan-kawasan ini peradaban besar masa lalu telah muncul seperti Mesopotamia, Sumeria, Assyria, Babylonia, Sughdia dan Persia. Tidak heran jika lukisan tradisi Islam paling awal dijumpai di wilayah-wilayah ini. Lukisan tertua misalnya dijumpai pada dinding istana Bani Umayyah yang dibangun oleh Sultan Walid I pada tahun 712 M di Qusair Amra, Syria. Juga lukisan di tembok bekas istana Sultan al-Mu`tazim dari Bani Abbasiyah di Samarra, Iraq, yang dibangun pada tahun 836-9 M.
Tembok bekas istana Sultan Walid I, yang terletak di tengah padang pasir itu, dipenuhi lukisan alegoris dan gambar berbagai jenis tumbuhan serta hewan. Asal-usul seni lukis dekoratif Islam (arabesque) mungkin dapat dilacak melalui gambar tersebut. Gambar di dinding istana Samarra memperlihatkan perkembangan lanjut yang penting. Di situ terdapat gambar gadis-gadis yang sedang menari, menyanyi dan bermain musik. Ini menggambarkan meriahnya kehidupan seni pertunjukan di istana kekhalifatan Abbasiyah di Baghdad sejak awal.
Di antara gambar menarik ialah gambar burung sedang terbang. Pada masa selanjutnya burung dijadikan tamsil bagi roh manusia yang selalu merindukan asal-usulnya di alam ketuhanan (`alam al-lahut) dan karenanya burung merupakan satu-satunya binatang yang muncul sebagai motif utama seni hias Islam. Sosok manusia digambar dalam pola lingkaran. Contoh serupa dijumpai pada sejumlah benda keramik dari zaman yang sama. Yang lebih menarik lagi ialah bahwa gambar di istana Abbasiyah itu dipengaruhi gaya Sassaniyah Persia abad ke-2 dan 7 Masehi.
Benda estetik Islam lain juga dijumpai di Nisyapur, Iran Utara, berupa gambar berelung pada gip yang menampilkan motif vas dan bunga. Latar biru pada gambar itu lazim dijumpai pada lukisan miniatur Persia abad ke-13 sampai 17 M. Gambar tersebut besar kemungkinan dibuat pada abad ke-10 M ketika Nisyapur berkembang menjadi pusat peradaban Islam dan pusat pembuatan keramik terbesar di luar Cina. Bukti lain bahwa pada abad ke-10 M seni lukis telah berkembang ialah dijumpainya fresco-fresco peninggalan Bani Fatimiyah yang memerintah Mesir dari abad ke-10 sampai abad ke-12 M. Fresco-fresco Mesir itu menampilkan lukisan geometris khas Islam. Selain itu juga terdapat gambar figur berupa orang sedang memegang gelas minuman.

0 komentar:

Posting Komentar