Sabtu, 15 Oktober 2011

SEJARAH TULISAN

| |

B. Zaman Tulisan
Setelah berlangsung ribuan tahun lamanya, sampailah manusia ke zaman tulisan (era ini muncul sekitar 5000 tahun SM). Artinya, komunikasi yang dilakukan tidak lagi mengandalkan lisan, tetapi tertulis. Meskipun ini bukan berarti mereka tidak menggunakan komunikasi lisan. Mereka tetap menggunakan bahasa lisan tetapi didukung pula dengan bahasa tulis. Era ini berlangsung lebih pendek dari era sebelumnya. Sejarah tulisan itu sendiri adalah salah satu proses dari pergantian dari gambaran piktigrafi ke sistem fonetis, dari penggunaan gambar ke penggunaan surat sederhana untuk menyatakan maksud yang lebih spesifik. Era ini juga bisa disebut proses awal usaha manusia dalam usahanya merekam informasi dengan melukiskan
atau menggambarkan gagasannya. Manusia Cro Magnon menjadi titik awal usaha manusia merekam informasi dengan menggambarkan kembali kehidupan binatang dan adegan dalam memburu binatang pada batu. Itulah media pertama kali yang dikenal manusia (terutama sekali yang tertulis). Kita juga telah mengetahui bahwa orang-orang Cro Magnon memproduksi lukisan-lukisan bagus pada dinding gua. Jadi sejarah tulisan itu sendiri sejalan dengan usaha manusia untuk merekam informasi yang diperolehnya.
Standarisasi makna sebuah gambar menjadi tahap penting awal perkembangan tulisan. Di awal perkembangannya, dorongan penting bagi pengembangan munculnya sistem tulisan itu adalah bahwa orang-orang tersebut perlu untuk menyimpan informasi, terutama yang berhubungan dengan batas tanah dan kepemilikan yang lain. proses merekam dilakukan agar terjadi persamaan pemahaman antara satu orang dengan orang lain. tak terkecuali bagi mereka yang terlibat dalam proses perdagangan. Para pedagang ini sangat membutuhkan bagaimana caranya merekam pembelian dan penjualan. Disamping itu, ada banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi di lapangan pertanian dengan proses merekam informasi ini. Sekedar contoh adalah bagaimana mengetahui pasang surut sungai (sebagaimana kasus di sungai Nil) yang sangat berguna bagi perencanaan proses mencocok tanam di masa yang akan dating. Dengan kata lain, akan ditanami apa jika sungai dalam keadaan surut. Jangan heran mengapa era tulisan kemunculannya dimulai di wilayah Mesir dan Sumeria kuno. Salah satu alasannya, di tempat inilah praktek pertanian dengan berbagai perhitungan yang memanfaatkan tulisan dimulai.
Sebuah prasasti yang ditemukan menginformasikan bahwa sekitar tahun 4000 SM ditemukan kota kuno di Mesopotamia dan Mesir. Sebagian besar prasasti ini menggambarkan lukisan dengan kasar atau goresan pada dinding bangunan. Dari penemuan prasasti ini bisa dikemukakan bahwa sudah ada standarisasi makna pesan. Misalnya secara sederhana gambaran matahari bisa berarti siang hari, membungkuk dengan tanda panah berarti berburu, garis yang berombak berarti danau atau sungai. Semua ini menjadi symbol awal dari sejarah kemunculan era tulisan. Standarisasi yang terjadi diuda kota kuno tersebut menjadi salah satu solusi manusia dalam menyampaikan pesan. Pesan-pesan itu jelas bisa mengatasi jarak dan waktu. Dengan standarisasi seperti itu sangat mungkin untuk menyampaikan pesan-pesan dari orang yang berjauhan letaknya atau bahkan pesan dari orang yang sudah meninggal dunia.
Bangsa Mesir menjadi penemu pertama pengembangan sistem glyps atau karakter simbolis. Pada tahap pertama kali mereka mengukir di atas batu, tetapi di waktu yang lain mereka menggambar dan melukis. Glyps milik orang mesar ini bisa dijadikan alasan awal munculnya standarisasi makna. Sitem ini hampir sama seperti yang dipunyai bangsa China dewasa ini.
Pada komunitas yang lain, seperti orang Sumeria yang tinggal di sebelah utara teluk Persia, juga melakukan hal yang sam. Orang Sumeria telah mampu mrngembangkan bentuk tulisan lain. mereka mulai menuangkan gagasannya dengan menggambar pada seonggok tanah lunak. Kemudian, karena sulit menggambar secara detail dalam tanah tersebut, mereka mulai memikirkan bentuk lain yang bisa mewakili ide-ide mereka. Tidak lama setelah itu, mereka menggunakan pucuk tongkat yang diruncungkan ke dalam sebuah bentuk yang dipecah-pecah (tidak utuh), untuk membuat tanda di dalam tanah itu. Hasil dari bentuk yang terpecah-pecah itu sering disebut sebagai tulisan cuneiform (tulisan kuno berbentuk baji) saat ini.
Penggunaan karakter untuk mempresentasikan suku kata adalah tahap pertama di dalam pembangunan tulisan phonetic (sistem bunyi ujaran) dan sebuah pemecahan yang cukup besar di dalam komunikasi manusia. Secara khusus, itu jelas akan membuat tingkat melek huruf semakin menjadi kenyataan.
Tulisan alpabet muncul kurang dari seratus tahun kemudian dan berkembang secara cepat. Tulisan tersebut kemudian menyebar ke seluruh dunia kuno, dan baru beberapa abad kemudian sampai ke negeri Yunani. Lambat laun gagasan penggunaan symbol huruf konsonan dan vocal muncul, lalu kemudian suku kata. Waktu itu karakter yang dibutuhkan kurang lebih seratus. Suatu jumlah yang sangat besar tentunya. Padahal saat sekarang kita hanya mengenal duapuluh enam karakter huruf saja.
Orang-orang Mesir awal mulanya sangat menyukai karakter simbolis tertentu. Tetapi lambat-lun mereka menggunakan konsonan saja. Meskipun sulit dimengerti, tetapi menjadi perkembangan tersendiri dan berarti bagi proses pengenalan huruf-huruf. Misalnya, kita menulis “bldg” dan mengatakan “building”. Jika kita tidak melengkapinya dengan vocal jelas akan sulit bukan?. Bisa jadi “bldg” diartikan dengan “buldog” atau “bledeg”. Ini salah satu alas an bahwa bangsa Mesir membangun tulisan phonetic, tetapi itu bisa dikatakan sudah terlambat jika dibandingkan dengan perkembangan di negara lain.
Sesudah banyak variasi pembahasan sejarah perkembangan tulisan, satu kejadian yang tidak boleh kita tinggalkan adalah yang terjadi di Yunani. Bangsa ini telah secara efektif dan sederhana mempunyai sistem standarisasi huruf. Sekitar 500 SM mereka telah secara luas menggunakan alpabet. Akhirnya, alpabet orang-orang Yunani masuk ke Roma yang kemudian dibangun serta dimodifikasi. Dewasa ini, kita menggunakan huruf-huruf capital (majuscule) dan huruf kecil (minuscule) yang berasal dari Roma itu.
Lambat laun sistem tulisan alpabetis ini berkembang secara cepat dan lengkap. Tanpa bantuan sistem tulisan ini bisa jadi populasi penduduk yang buta huruf akan menjadi lebih besar. Perkembangan yang pentingpun terjadi pula dalam ilmu pengetahuan, lukisan, pemerintahan dan keagamaan. Tingkat melek huruf yang kian meningkat mau tidak mau menjadi salah satu faktor perkembangan ini.
Sekitar 2500 tahun (sebelum munculnya ajaran Kristen), orang Mesir menemukan metode pembuatan jenis kertas yang dapat tahan lama dari papyrus. Dibandingkan dengan batu, papyrus jelas lebih baik. Alasannya, lebih mudah menulis di papyirus dengan kuas dan tinta dari pada memahat di atas batu. Papyrus itu sendiri asal usulnya ditemukan di muara sungai Nil.
Hal yang paling penting dalam era ini adalah perubahan dari menulis di batu ke media portable dan industri ringan. Perkembangan ini akan membuka kemungkinan perubahan penting pula di dalam organisasi sosial dan budaya masyarakat. Pertumbuhan teknologi komunikasi didasarkan pada media industri ringan dan portable ini, ditambah lagi symbol sistem tulisan yang dapat diproduksi secara cepat.
Perkembangan ini memberikan pengaruh pada perubahan kelembagaan. Sekedar contoh, orang-orang Mesir di sekitar tahun 2000 SM menggunakan papyrus untuk mengirimkan pesan tertulis dan merekam berbagai macam informasi. Tingkat melek huruf yang baik menjadi keahlian yang sangat berharga. Bahkan menjadi pembuka jalan bagi kemakmuran masyarakatnya. Para ahli (yang bisa membaca dan memahami tulisan) menjadi kelas istimewa dan mempunyai hak khusus dibawah kontrol elit. Ini tak lain karena adanya perubahan besar dibidang politik dan institusi keagamaan yang terus berlangsung. Perpustakaanpun dibuka. Dokrin agama dan kitab injil ditulis. Sekolah-sekolah bermunculan untuk mencetak para ahli. Bahkan seni dan ilmu pengetahuan mulai berkembang pula. Kesuksesan ini membawa berkah pada perkembangan tulisan. Semua hal bisa ditulis. Observasi dalam ilmu pengetahuan bisa direkam. Gagasan yang dibuat direkam, dilipatgandakan dan digambar serta diwariskan pada generasi selanjutnya. Fenomena ini menjadi tahapan yang penting dalam proses menuju zaman digunakannya mesin cetak sebagai alat komunikasi.
Hubungan antara tulisan dan bahasa (lisan) dapat dilihat secara histories maupun dari sudut pertumbuhan bahasa perorangan. Jauh sebelum masa histori, yaitu sebelum adanya tulisan-tulisan yang dipakai untuk mencatat kejadian-kejadian, manusia telah lama berbahasa, dan bahasanya tentulah bahasa lisan. Segala peraturan di dalam masyarakat pada waktu itu hanyalah dicatat di dalam ingatan anggota-anggotanya, dan anggota yang tertua biasanya merupakan anggota terhormat, karena menjadi “penyimpanan“ aturan-aturan dan catatan-catatan yang penting, atau dengan kata lain merupakan arsip hidup daripada masyarakat itu. Kejadian-kejadian yang penting diteruskan secara lisan dari orangtua kepada anak dan dari anak kepada cucu, turun temurun. Demikian pula cerita-cerita anggitan (fiction) di dongengkan kepada anak cucu. Hal-hal semacam itu masih jelas dapat dilihati di dalalm kehidupan masyarakat kita di desa-desa, di mana hukum-hukum tak tertulis, adaptasi, dan kebiasaan merupakan ugeran-ugeran atau norma-norma kehidupan. Kalau kita hitung, orang-orang yang tidak mempergunakan tulisan jauh lebih banyak daripada yang mempergunakan di dunia ini.
Ditinjau dari pertumbahan bahasa perorangan, anak-anak memperlajari dan menguasai bahasa lisan terlebih dahulu, sebelum mereka dapat menuliskan bahasanya. Kepandaian menulis ini biasanya didahului oleh kecakapan membaca. Sekolah dan alat massa, yaitu Koran, mendesakkan pengaruh tulisan kepada kehidupan manusia ini. Biarpun yang kedua itu dikurangi oleh alat massa yang lain, yaitu radio dan televise, sekolah-dalam arti penambahan ilmu pengetahuan-bertambah banyak dan meninggikan pengaruh tulisan itu.
Betapa pun besarnya peranan tulisan itu di dalam kehidupan masyarakat modern ini, bahasa pertama-tama ialah lisan, sedangkan tulisan itu hanyalah alat pencatat yang tidak sempurna belaka. Ketidaksempurnaan tulisan itu ialah karena tidak semua aspek bahasa dapat dinyatakan dengan tulisan, biarpun ada tanda-tanda bacaan, yang bisa menggantikan beberapa dari aspek-aspek itu. Tekanan, nada dan lagu kalimat seringa tidak dinyatakan di dalam tulisan.
Kekutangn tulisan itu dapat pula dilihat pada tidak tetapnya tanda-tanda tulissan itu dipakai untuk menyatakan bunyi-bunyi atau urutan-urutan bunyi bahasa. Dalam hal ini bahasa Indonesia mempunyai system tulisan yang baik, artinya sedikit sekali ketidak tetapan tanda-tanda tulisan kita yang terdapat. Hal ini umpamanya pemakaian tanda (e), yang dipakai untuk menyatakan bunyi-bunyi seperti yang terdapat di dalam suku pertama kata-kata tempe, kesan, dan nenek. Karena hal ini, orang yang yang tidak tahu sebuah kata yang di tulis dengan tanda itu akan bingung menafsirkan nilai tanda (e) itu, umpamanya pada tulisan kata (esa).
System tulisan yang sangat buruk ialah system tulisan bahasa inggris. Tanda yang sama dipakai untuk menyatakan bermacam-macam bunyi, seperti (ough), masing-masing di dalam kata-kata tough, though , dan hiccough. Sebaliknya tanda yang berbeda-beda dipakai untuk menyatakan bunyi atau urutan bunyi yang sama, seperti [e], [ee], [ea], [ei], dan [eo] yang dipakai untuk mewkili bunyi [i;], yang terdapat masing – masing di dalam kata-kata regent, flee, flea, receove, people dan receipt. Karena lah ini, dikabarkan bahwa George Bernard Shaw, penulis terkenal, menuliskan di dalam surat wasiatnyq untuk memberikan hadiah kepada siapa saja yang menciptakan ejaan yang sangat mudah bagi bahasa inggris. Rupa-rupanya, waktu masih hidupnya penulis itu banyak mendapat kesukarn dari ejaan bahasa inggris yang sangat buruk itu.
Bahasa dan tulisan adalah dua macam sistem tanda yang jelas berbeda; yang kedua hanya ada melulu untuk keperluan pencatatan yang pertama. Obyek ilmu bahasa bukanlah tulisan dan bahasa, melainkan hanyalah bahasa, sedangkan tulisan bisa dipakai untuk membantunya. Tetapi bahasa lisan yang mempunyai sistem tulisan demikian erat hubungannya dengan tulisannya, sehingga yang kedua ini bserhasil mengaburkann peranannya yang pokok. Orang lebih memperhatikan tanda tulisan daripada bunyi itu sendiri. Kesalahan yang sama ialah, apabila seorang menyangka akan lebih banyak dapat mempelajari gambar seseorang daripada orangnya sendiri.
Tetapi bagaimana menerangkan pengaruh tulisan itu ?
1) bentuk grafis daripada kata-kata kelihatannya seperti sesuatu yang tetap stabil, lebih sesuai untuk memperhitungkan kesatuan bahasa sepanjang masa daripada bunyi. Biarpun tulisan itu menciptakan kesatuan yang fictive, jaminan yang dangkal dripada tulisan lebih mudah ditangkap daripada jaminan satu-satunya yaitu jaminan daripada bunyi.
2) kebanyakan orang lebih tertarik kepada kesan visual hanya karena kesan-kesan ini lebih tegas dan lebih lama daripada kesan-kesan pendengaran; itulah sebabnya mereka lebih suka kepada tulisan. Bentuk grafis berhasil mendesak diri kepada orang banyak dengan kerugian di pihak bunyi.
3) bahasa sastra (tulisan) menambah pentingnya tulisan. Bahasa sastra mempunyai kamusnya dan tatabahasanya; di sekolah anak-anak di ajarkan dari dan dengan memakai buku; bahasa rupanya dikuasai oleh system tanda; system tanda itu sendiri atas seperangkat kaidah-kaidah pemakaian yang tertulis, yaitu ejaan; dan karena inilah maka tulisan memperoleh kepentingan yang pertama. Hasilnya ialah bahwa orang-orang lupa bahwa mereka itu belajar berbicara terlebih dahulu sebelum menulis, dan urutan yang sebenarnya ini dibaliknya.
4) apabila terdapat ketidak-cocokan antara ujar dan tulisan, penyelesaiannya sukar bagi tiap orang, kecuali bagi ahli bahasa (linguist); dan karena ahlibahasa tidak diberikan suara untuk penyelesaian itu, bentuk tulisan itu hamper selalu akan dimenangkan, sebab tiap penyelesaian yang didukung oleh tulisan itu telah gampang; demikian tulisan memperoleh kepentingan yang tidak selayaknya
Ada empat macam sistem tulisan, yaitu:
1) di dalam sistem ideografi tiap ide dinyatakan oleh sebuah tanda yang tidak dihubungkan dengan bunyi atau urutan bunyi tanda ide itu. Tiap tanda mewakili seluruh kata dan karena itu mewakili ide yang dinyatakan oleh kata itu. Contoh ideografi ialah “ tulisan “ di Mesir Kuno, di Babilonia dan di Cina
2) ada persangkaan bahwa evolusi tulisan itu terjadi dari ideografi kepada piktografi. Hal ini dapat dibayangkan, karena “ tulisan “ ideografi itu kurang berkecil-kecil menunjukkan edenya atau konsepnya. Umpamanya saja ideografi “ gedung “ dapat pula ditafsirkan sebagi rumah , pondok , gubug , dan juga gedung yang besar, sehingga mungkin kurang tepatnya. Itulah sebabnya timbul pengkhususan, dan lahirlah “ tulisan “ piktograf. Sistem ini memberikan gambar-gambar yang konvensional sebagai tanda-tanda konsep, seperti gambar rumah, pondok , pohon cemara , pohon nyiur, dan lain sebagainya. Tulisan kebanyakan bangsa Indian(Amerika) adalah system piktograf seperti ini.
3) system suku kemudian lahir, yang kira-kira sebagai tingkatan berikut sistem piktografi. Sistsem suku ini tentulah baik bagi bahasa-bahasa yang suku-suku kata-katanya sederhana, seperti bahasa Jepang, umpamanya. Oleh sebab itu, bahasa jepang mempunyai sistem suku ini di samping masih juga mempergunakan system ideografi, yang dinamakan Kanji. Menurut keterangan, penulisan bahasa dengan “huruf” Kanji belum dapat lengkap, lebih-lebih untuk “menyatakan” akhiran-akhiran, kata-kata baru atau kata-kata pungutan, sedankan arena itu diperlukan tambahan. System suku yang dipakai bangsa Jepang ada dua macam, yaitu Hiragana dan Katakana. Mula-mula bangsa Tamil, Arab, dan Hebreu juga mempergunakan sistem suku. Hal ini memang masih tampak pada tulisan arab, umpamanya yang lebih mementingkan konsonan-konsonannya. Bahasa-bahasa Semit memang baik sekali mempunyai tulisan semacam itu, karena pada dasarnya akar-akar kata yang terdapat merupakan jajaran konsonan-konsonan belaka, sedangkan sonan-sonan itu dipakai untuk “ memberikan variasi “, artinya untuk mengadakan derivasi dan konjugasi.
4) system yang sangat praktis ialah system fonetik. Sistem ini mencoba menghasilkan ututan bunyai-bunyi yang merupakan kata. Sistem fonetik ini kadang-kadang bersifat suku, kadang-kadang bersifat abjad, yaitu didasarkan kepada unsur-unsur yang tak terbagikan di dalam ujar. Dikabarkan bahwa abjad fonetis yang mula-mula terdapat di Fonesia (Lebanon yang sekarang) kira-kira 1725 tahun SM. Abjad itu rupa-rupanya hanya sekali itu diciptakan, yang pokok-pokok pikirannya kemudian dibawa orang ke India dan ke Yunani. Yang pertama itu, setelah mengalami perubahan-perubahan menjadi abjad Devanagari itu. Di Yunani abjad itu mendapat tambahan tanda-tanda vocal, smuanya disesuaikan dengan keperluan penulisan bahasa Yunani Kuno. Dengan tersebarnya agama Kristen, tulisan itupun tersebar pula, mula-mula ke Romawi, dan kemudian ke Eropa sebelah utara-tengah, yang kemudian melahirkan abjad-abjad Armenia, Georgia dan Gotia. Di Romawi, abjad Latin menjadi terkenal dan kemudian tersebar bersama bahasa Latin sebagai bahasa ilmu pengetahuan di sebagian besar Eropa yang lain. Demikianlah sejarah “perantauan“ abjad fonetis dengan singkatnya. Sudah barang tentu tiap pengambilan oleh bangsa lain, abjad itu mengalami perubahan-perubahan, yang di sesuaikan dengan keperluan bangsa itu, sehingga sekarang ini terdapatlah bermacam-macam abjad.
Ejaan suatu bahasa yang sempurna ialah apabila tiap bunyi bahasa itu dinyatakan oleh sebuah tanda atau huruf. Ejaan semacam ini biasanya disesuaikan dengan bunyi – bunyi yang membedakan, yang disebut fonem, di dalam bahasa itu, sehingga ejaan yang sempurana itu bisa kita sebut ejaan fonemis. Seperti kami terangkan di atas, ejaan bahasa Indonesia belum fonemis, karena masih terdapat penandaan yang tidak mengikuti dasar yaitu satu tanda untuk satu fonem.
Penulisan huruf (u) dengan diagraf (oe) pada sementara nama orang sebenarnya menyalahi ejaan bahasa Belanda. Sudah banrang tentu tiap orang Indonesia mempunyai hak untuk menuliskan namanya semau hatinya, tetapi orang – orang yang menuliskan namanya dengan ejaan Belanda itu tidak luput dari purbasangka kebelanda-belandaan. Ada yang menerangkan, bahwa mereka itu dilahirkan sebelum kemerdekaan, artinya pada waktu penjajahan Belanda, jadi tidak mungkin namanya dituliskan dengan ejaan kita yang sekarang. Orang tentulah heran akan keterangan itu, karena jangankann ejaan nama tidak dapat diubah, sedangkan pemerintah colonial yang beratus tahun itu bisa diubah dalam beberapa waktu saja. Lepas dari soal-soal itu, jika penulisan tidak sesuai dengan ejaan kita sendiri, tidak dapat dielakkan orang atau lebih-lebih anak-anak kita membaca nama-nama yang ditulis seperti: Doel, Kaboel, Koeloer, dan sebagainya, sebagai dowel, kabowel, dan kowelower.
1. Sejarah Huruf
Sejarah huruf bermula di Mesir purba. Pada 2700 SM orang Mesir telah membangunkan set dari sesetengah 22 hieroglyph untuk mempersembahkan konsonan individu dari bahasa mereka, tambahan ke-23 yang seolah-olah telah dipersembahkan kata-initial atau vokal kata-akhir. Glyph ini telah digunakan sebagai panduan sebutan untuk lologram, untuk menulis infleksi tatabahasa, dan, kemudian, untuk transkripkan kata pinjaman dan nama asing. Walaupun huruf dibuat secara semulajadi, sistem ini tidak digunakan secara tulen untuk menulis huruf. Huruf skrip tulen pertama adalah dipikirkan telah dibangunkan sekitar 2000 SM untuk pekerja Semitik di Mesir tengah. Lebih lima abad kemudiannya ia sebar ke utara, dan semua huruf berikutnya sekeliling dunia telah samada berasal-usul darinya, atau telah diinspirasikan oleh salah satu dari keturunannya, dengan kemungkinan berkecuali dari huruf Meroitik, sebuah hieroglyph adaptasi abad ke-3 SM di Nubia ke selatan Mesir.

a. Huruf Semitik
Skrip Zaman Gangsa Pertengahan dari Mesir telah kelak untuk ditafsirkan. Bagaimanapun, mereka muncul untuk menjadi kurang sebahagian, dan mungkin dengan lengkap, berhuruf. Contoh tertua dijumpai sebagai graffiti dari Mesir tengah dan bertarikh sekitar 1800 SM. Skrip Semitik ini tidak membatasi sendiri kepada tanda konsonantal Mesir yang wujud, tetapi menggabungkan sebilangan dari hieroglyph Mesir yang lain, untuk sejumlah yang mungkin tiga-puluh, dan menggunakan nama Semitik untuk mereka. Jadi, sebagai contoh, hieroglyph per (”rumah” dalam Mesir) menjadi bayt (”rumah” dalam Semitik). Ia tidak jelas pada masa ini samada glyph ini, apabila digunakan untuk menulis bahasa Semitik, telah tulennya berhuruf secara semulajadi, mempersembahkan hanya konsonan pertama dari nama mereka menurut dasar akrofonik, atau samada mereka boleh juga persembahkan babak konsonan atau malahan juga perkataan seperti mana moyang mereka ada. Sebagai contoh, “rumah” glyph mungkin bangkit hanya untuk b (b sepertimana beyt “rumah”), atau mungkin ia bangkit untuk kedua-dua p dan babak pr dalam Mesir. Bagaimanapun, apabila suatu masa skrip telah diwarisi oleh orang Canaan, ia telah tulennya berhuruf, dan hieroglyph asalnya mempersembahkan “rumah” bangkit hanya untuk b.
b. Keturunan abjad Semitik
Huruf Proto-Canaan ini, seperti prototaip Mesirnya, hanya mempersembahkan konsonan, sebuah sistem dipanggil abjad. Darinya dapat dikesan hampir kesemua huruf yang pernah digunakan, kebanyakan dimana turunnya dari yang lebih muda versi skrip Phoenicia.
Abjad Aramia, dimana berkembang dari Phoenicia pada abad ke-7 SM sebagai skrip rasmi Empayar Parsi, muncul menjadi keturunan dari hampir kesemua huruf moden Asia:
1. Abjad Ibrani moden dimulakan sebagai Aramia pelbagaian. (Abjad Ibrani asal telah dikekalkan oleh Samaritan).
2. Abjad Arab diturunkan dari Aramia via huruf Nabatean dari apa yang dipanggil sekarang selatan Jordan.
3. Abjad Syriak digunakan selepas abad ke-3 CE dikembangkan, melalui Pahlavi dan Sogdian, kedalam huruf dari utara Asia, seperti Orkhon (kemungkinan), Uyghur, Mongolia, dan Manchu.
4. Huruf Georgia adalah dari tempat asal yang tidak pasti, tetapi muncul menjadi sebahagian keluarga Parsi-Aramia (atau mungkin jadi Greek).
5. Abjad Aramia juga sudah pastinya keturunan dari Huruf Brahmic dari India, dimana disebarkan ke Tibet, Asia Tenggara, dan Indonesia bersama agama Hindu dan Buddha. (China dan Jepun, semasa menyerap Buddhisme, telahpun literat dan mengekalkan skrip logographik dan ejaan sukuan.)
Huruf Hangul alphabet telah diciptakan di Korea dalam abad ke-15. Tradisi mengatakan bahawa ia merupakan ciptaan autonomi; bagaimanapun, penyelidikan terkini mencdangkan bahawa ia mungkin berdasarkan kepada separuh sedozen huruf yang diambil daripada skrip Tibet melalui imperial huruf Phagspa dari dinasti Yuan dari China. Memang unik di kalangan huruf-huruf dunia, lebihan daripada huruf-hurufnya adalah diambil daripada teras ini sebagai satu sistem featural .
Selain Aramia, huruf Phoenicia memberi kebangkitan kepada huruf Greek dan Berber. Dimana huruf untuk vokal boleh sebenarnya menghindarkan legilibiliti Mesir, Berber, atau Semitik, ketidakhadiran mereka adalah bermasalah untuk Greek, dimana mempunyai struktur morfologikal yang amat berlainan. Bagaimanapun, terdapat penyelesaian mudah. Kesemua nama huruf dari huruf Phoenicia bermula dengan konsonan, dan konsonan ini adalah apa yang mempersembahkan huruf. Bagaimanapun, beberapa dari mereka adalah agak lembut dan tidak dapat disebutkan oleh Greeks, dan demikian beberapa nama huruf datang menjadi disebut dengan vokal initial. Mengikut dasar akrofonik yakni adalah sistem basis, huruf ini sekarang berdiri ubtuk vokal itu. Contohnya, Greeks tidak mempunyai hential glotal atau h, jadi huruf Phoenicia ’alep dan he menjadi Greek alpha dan e (kemudian dinama semula epsilon), dan berdiri untuk vokal a dan e berbanding dari konsonan ʔ dan h. Laksana perkembangan bertuah ini hanya dibekalkan untuk enam dari dua-belas vokal Greek, Greeks akhirnya mencipta diagraf dan lain-lain pengubahsuaian, seperti ei, ou, dan (dimana menjadi omega), atau dalam sesetengah kes dengan mudah abaikan kekurangan, seperti dalam panjang a, i, u.
Greek dalam giliran adalah sumber untuk semua skrip moden Eropah. Huruf dialek Greek barat awal, dimana huruf eta ditinggalkan h, memberi kebangkitan kepada Italik Kuno dan huruf Roman. Dalam dialek Greek timur, dimana tidak mempunyai /h/, eta berdiri untuk vokal, dan ditinggalkan vokal dalam Greek moden dan semua lain-lain huruf dipemerolehan dari pelbagaian timur: Glagolitik, Cyrillic, Armenia, Gothik (dimana menggunakan kedua-dua huruf Greek dan Roman), dan mungkin jadi Georgia.
Walaupun deskripsi ini persembahkan evolusi skrip dalam fesyen linear, ini adalah diperkemudahkan. Sebagai contoh, huruf Manchu, diturunkan dari abjad Asia Barat, adalah juga dipengaruhi oleh hangul Korea, dimana samada bebas (pandangan tradisional) atau dipemerolehan dari abugida Asia Selatan. Georgia nyata dipemerolehan dari keluarga Aramia, tetapi kuat dipengaruhi dalam konsepsyennya oleh Greek. Huruf Greek, sendiri akhirnya adalah pemerolehan dari hieroglyph melalui yakni huruf Semitik pertama, kemudian mengambilguna tambahan separuh dozen hieroglyph demotik apabila ia digunakan untuk menulis Coptik Mesir. Kemudian terdapat Suku Kata Cree (sebuah abugida), dimana muncul menjadi fusyen dari Devanagari dan tangan pendek Pitman; terkemudiannya mungkin adalah ciptaan bebas, tetapi berkemungkinan mempunyai asalan akhir dalam skrip Latin kursif.
c. Nama Huruf dan Siri
Tidak diketahui berapa banyak huruf-huruf dalam huruf Proto-Sinaitik, atau apa susunan huruf mereka. Di kalangan warisnya, huruf Ugaritik mempunyai 27 konsonan, huruf Arab Selatan mempunyai 29, dan abjad Phoenicia telah dikurangkan kepada 22. Skrip-skrip ini disunsunan dalam dua susunan, satu arahan ABGDE dalam bahasa Phoenicia, dan satu arahan HMHLQ di selatan; Ugaritic menyimpan arahan-arahan tersebut. Kedua-dua jujukan telah dibuktikan secara tak disangka-sangka ia telah dibuktikan stabil di kalangan waris-waris skrip ini.
Nama huruf ini dibuktikan stabil dikalangan waris Phoenicia, termasuk Samaritan, Aramia, Syriak, Ibrani dan huruf Greek. Bagaimanapun, mereka telah terbiar dalam Arab dan Latin. Huruf siri terus lagi ayau kurang sempurna kedalam Latin, Armenia, Gothik, dan Cyrillic, tetapi telah terbiar dalam Brahmi, Runik, dan Arab, walaupun susunan abjad tradisional ditinggalkan atau telah diperkenalkan semula sebagai altenatif dalam terkemudiannya
22 konsonan akaun ini untuk fonologi Semitik Barat Laut. Dari pembinaan semula konsonan Proto-Semitik, tujuh yang hilang: iaitu frikatif interdental , lateral frikatif tanpa suara ś, ́, frikatif uvular disuara g, dan perbezaan antara uvular dan frikatif tanpa suara farigil , dalam Canaan bercantum dalam et. Enam pelbagaian huruf ditambah dalam akaun huruf Arab untuk ini (kecuali untuk ś, dimana terus hidup sebagai fonim terpisah dalam Ge’ez ሰ):  > āl;  > ā‘;  > ād; g > gayn; ́ > ā‘;  > ā‘ (tetapi nota yakni pembinaan semula ini adalah dengan berat dimaklumkan oleh Arab; lihat Proto-Semitik dengan lebih terperinci).
d. Huruf Bebas Bergrafik
Huruf moden kebangsaan yang hanya yakni telah tidak secara grafiknya dijejak balik kepada huruf Canaaan adalah skrip Maldivia, dimana yang uniknya adalah, walaupun a jelasnya dimodelkan selepas Arab dan mungkin jadi lain-lain huruf yang wujud, ia dipemerolehan dari bentuk hurufnya dari angka. Huruf Osmanya difikirkan untuk Somali pada 1920an telah ko-rasmi di Somalia dengan huruf Latin hingga 1972, dan bentuk konsonannya kelihatan menjadi inovasi lengkap.
Dikalangan huruf yang tidak digunakan sebagai skrip kebangsaan kini, beberapa yang jelas bebas dalam bentuk huruf mereka. Huruf fonetik Zhuyin dipemerolehan dari watak Cina. Huruf Santali dari India timur kelihatan menjadi berdasarkan pada simbol tradisional seperti “bahaya” dan “tempat mesyuarat”, baik juga seperti piktograf yang dicipta oleh penciptanya. (Nama huruf Santali adalah yang berhubung kepada bunyi mereka persembahkan melalui dasar akrofonik, seperti dalam huruf asli, tetapi ia adalah konsonan akhir atau vikal dari nama yakni huruf ini mempersembahkan: le “pembengkakan” mempersembahkan e, manakala en “membanting bijirin” mempersembahkan n.)
Dalam dunia purba, Ogham terdiri dari tanda bersamaan, dan inskripsi monumental dari Empayar Parsi Kuno telah ditulis dalam skrip cuneiform berhuruf berkeperluan yang empunya bentuk huruf kelihatan telah dicipta untuk kadang-kadang. Bagaimanapun, manakala semua huruf dari sistem ini mungkin telah grafikalnya bebas dari lain-lain huruf di dunia, mereka telah difikirkan dari contoh mereka.
e. Huruf dalam Media Lain
Perubahan kepada medium penulisan baru kadangkala menyebabkan pemecahan dalam bentuk geografi, atau membuat perhubungan sukar untuk dijejak. Ia tidak segera ketara yakni cuneiform huruf Ugaritik dipemerolehan dari abjad Semitik prototipikal, sebagai contoh, walaupun ia kelihatan menjadi kes. Dan manakala huruf manual adalah penerusan terus dari huruf tempatan bertulis (kedua-dua dua-tangan British dan huruf Perancis/satu-tangan Amerika mengekalkan bentuk huruf Latin. seperti huruf manual India buat Devanagari, dan Korea buat Hangul), Braille, semafor, bendera isyarat maritim, dan kod Morse adalah perlunya bentuk geografi rambang. Bentuk Braille Inggeris dan huruf semafor, sebagai contoh, adalah dipemerolehan dari susunan berhuruf dari huruf Latin, tetapi bukan dari bentuk grafik huruf mereka sendiri. Tangan pendek moden juga kelihatan menjadi geografinya tidak berhubungkait. Jika ia dipemerolehan dari huruf Latin, perhubungan telah hilang dalam sejarah.

0 komentar:

Posting Komentar